Jumat, 13 Oktober 2017

Menghormati Guru, Menghormati Kerabat Guru

Suatu saat, KH Ma’ruf Irsyad bersama Ibu Nyai Munijah sowan KH Arwani Amin. Di dalem Mbah Arwani, Kiai Ma’ruf dan Nyai Munijah dipersilakan duduk di tempat yang telah disiapkan sebelumnya. Kiai Ma’ruf kaget karena Mbah Arwani justru duduk lebih rendah dari tempat yang disediakan itu.
Melihat pemandangan tidak wajar itu, Kiai Ma’ruf bertanya, “Mbah yai, jenengan kok duduk di bawah.” Mbah Arwani menjawab tegas, “yang datang sowan ke saya ini istrinya teman guru saya.”
Tentu Kiai Ma’ruf kikuk mendapatkan perlakukan istimewa dari sang guru, KH Arwani Amin, yang selain alim-allamah, juga disebut Mbah Hamid Pasuruan sebagai sosok waliyullah Kudus yang sangat dikenal akhaq mulianya.
Tidak hanya di ruang tamu, ketika pulang pun, Kiai Ma’ruf tambah dibuat heran dan kagum. Jalan menuju pulang penuh dengan kerikil batu yang mengganggu. Tanpa diduga, Mbah Arwani menyingkirkan kerikil tersebut dengan tangannya sendiri, tidak memerintah kang santri agar perjalanan pulang istri teman guru lancar.
“Mbah yai, ampun, sudah, tidak usah mbah yai,” kata Kiai Ma’ruf.
“Sudah, diam saja,” sahut Mbah Arwani tetap menyingkirkan kerikil yang sebetulnya tidak perlu.
Cerita di atas dituturkan sendiri oleh KH Ma’ruf Irsyad di sela-sela mulang ngaji santri di Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin (PPRM), Jagalan Kudus.
Apa yang dilakukan oleh Mbah Arwani tersebut bukan sesuatu yang berlebihan dan sia-sia. Itu adalah praktik melimpah atas akhlaq hormat seorang alim kepada istri teman guru. Bayangkan, bukan gurunya, tapi istri teman dari gurunya.
Nyai Munijah, ibu Kiai Ma’ruf Irsyad, adalah istri KH Irsyad yang berteman akrab dengan guru KH Arwani Amin bernama Mbah Mansur, Popongan, Klaten. Kepada Mbah Mansur yang asli Mranggen inilah Kiai Arwani belajar thariqah.

Minggu, 23 Juli 2017

Kiai Menata Sandal Kiai


Di pesantren, setiap santri dilengkapi dengan ajaran adab serta tradisi tawadlu'nya. Mulai dahulu hingga sekarang kebiasaan menghormati siapa saja menjadi ciri khas santri Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyyah. Hal penting ini diajarkan hingga melekat menjadi karakter mereka sampai terbawa saat mereka pulang. Kelekatan karakter ini juga bisa dibuktikan pada  pemandangan yang tampak pada perhelatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Madrasah Taswiquth Thullab (TBS), Kudus yang digelar pada Sabtu (23-07-2017).

Pada acara itu, Kiai Ahmad Arwan, seorang guru sepuh TBS sudah naik ke panggung terlebih dahulu. Ia diminta panitia untuk membuka acara. Di atas panggung, tampak beberapa kiai lain yang turut mendampingi, di antaranya KH Arifin Fanani, KH Munfaat Abdul Jalil, KH Hasan Fauzi Maschan dan beberapa kiai lain. Di tengah kegiatan berlangsung, KH Ulil Albab Arwani datang. Semua hadirin beranjak berdiri dari tempat duduknya hingga pengasuh Pesantren Yanbu'ul Qur'an ini duduk di atas panggung.

Karena panggung beralaskan karpet permadani, putra Kiai Arwani Amin ini tak berkenan memakai sandal hingga ke atas panggung. Ia lepas di bawah. Mendapati demikian, Kiai Arwan yang notabene sebagai santri Kiai Arwani langsung sigap mendekat menuju tempat sandal Kiai Albab dilepas kemudian sandal diputarkan (diwalik=jawa) menghadap sesuai posisi saat nanti akan dipakai pemiliknya sebagaimana lazim dalam dunia pesantren.

Hadirin terhenyak, mereka mendapat pelajaran berharga bahwa hormat kepada siapa saja terlebih kepada guru dan keluarganya memang tak memandang usia. Usia Kiai Albab lebih muda dari pada Kiai Arwan. Namun Kiai Arwan tetap menaruh hormat setinggi-tingginya atas jasa gurunya tersebut dengan menghormatinya beserta kelularga besarnya. Hal ini diakui oleh salah satu peserta, Hasan Busri.

"Kami sebagai alumni merasa mendapat pelajaran penting tentang arti hormat guru atas apa yang dicontohkan Mbah Kiai Arwan tadi," tutur alumnus asal Demak ini usai acara. Selain sebagai ajang ngaji bareng masyayikh, dalam pagelaran Silatnas ini juga diluncurkan website yang akan berisi konten-konten keislaman ala ahlis sunnah wal jama'ah dengan alamat santrimenara.com.



Sumber :NU Online

Jumat, 02 Juni 2017

Bertanya Kepada Ahlinya

Suatu hari, guru kita KH. Ma’ruf Irsyad (Allah yarham), disowani (didatangi) seseorang, untuk keperluan menanyakan perihal hukum fiqih. Kepada Kiai Ma’ruf, sang tamu menjelaskan pertanyaannya, begini dan begitu.
“Jenengan tunggu di sini, saya tanyakan dulu kepada kiai yang lebih alim dalam masalah ini,” kata kyai Ma’ruf.
KH. Ma’ruf Irsyad Kudus kemudian mengambil sepeda unta miliknya, yang bisa beliau gunakan mengajar di Madrasah TBS Kudus dan Qudsiyah. Dikayuhnya sepeda butut tersebut ke arah Utara. Ternyata, beliau pergi ke ndalem (rumah) KH. Arifin Fanani, Kwanaran, kyai pakar ilmu fiqih di Kudus.
Kiai Ma’ruf mengetuk pintu. Dibukalah pintu itu oleh KH Arifin sendiri. Kebetulan tidak sedang tindakan (bepergian). Kepada Kiai Arifin, Kiai Ma’ruf menjelaskan maksud kedatangannya, menanyakan perihal hukum yang termaksud. Mendengar itu, Kiai Arifin terkejut. Kepada Kyii Ma’ruf yang usianya lebih sepuh puluhan tahun, Kiai Arifin bertanya:
“Panjenengan kok dibela-belain datang ke sini, menaiki sepeda sendirian. Alangkah baik umpama cukup lewat telepon saja, yi,”
“Ilmu itu didatangi, dan dia tidak (patut) mendatangi,” kata Kyai Ma’ruf.

Kamis, 24 November 2016

Nderes Kanthi Istiqomah

Jika MurajaƔhnya istiqomah, hati bahagia, sebab Insya Allah bisa lancar

Jumat, 09 September 2016

Nabi Sulaiman, Malaikat Izrail, Pemuda, dan Angin

TEntang MAti
Malaikat Izrail menyamar menjadi manusia dan sowan ke Nabi Sulaiman, kebetulan di samping Nabi Sulaiman ada seorang Pemuda, tidak lama Malaikat Izrail berkunjung, setelah Malaikat maut pergi, dengan nada ketakutan, Pemuda tersebut bertanya kepada Nabi Sulaiman.
"Siapa Orang tadi, Wahai Nabi Allah Sulaiman? , sedari tadi Ia memelototiku terus menerus"
"Ia Malaikat Izrail yang menyamar menjadi Manusia" jawab Nabi Sulaiman.
"Jangan-jangan Ia akan mencabut nyawaku"
"Apa yang Engkau pikirkan wahai anak muda?" tanya Nabi Sulaiman.
"Perintahkanlah Angin untuk menerbangkanku jauh ke negri China,", Ucap Pemuda itu, memohon penuh harap.
Nabi Sulaiman berkenan mengabulkan permintaannya.
Selang beberapa waktu, malaikat Izrail datang lagi kepada Nabi Sulaiman.
Pada saat itu Nabi Sulaiman bertanya perihal mengapa malaikat maut memandangi pemuda itu dengan pandangan yang tajam. Maka malaikat maut menjawab, “Sesungguhnya aku diperintahkan oleh Allah untuk mencabut nyawa pemuda itu pada saat yang telah ditentukan (hari itu) di negeri China. Aku memandanginya karena keheranan, mengapa Allah menyuruhku untuk mencabut nyawanya di negeri China sementara aku melihatnya sedang berada di dekatmu?”
Maka malaikat maut melanjutkan, “Ternyata pahamlah aku, karena tidak lama setelah aku pergi, tiba-tiba angin membawanya ke negeri China. Dan aku telah mencabut nyawanya hari itu di China.”
#KitabMajalisusSaniyyah

Jumat, 26 Agustus 2016

Kopi

Kopi itu seperti cinta, sedikit tak melepas dahaga, banyak tak membuat kenyang.

Diajak dan Ikut


Setiap kali Mbah Dullah Salam (KH. Abdullah Salam Kajen) 'tindakan' (bepergian), selalu mengajak santri ataupun kerabat dan sahabat dekatnya.
"Mbah, nanti saya ikut ya!"
"Ya."
"Tapi nanti ongkosnya dibayari ya!"
"Lo, ya bayar sendiri!"
"Lah, mereka kok dibayari mbah?"
"Mereka kan aku yang ngajak. Kamu kan minta ikut sendiri!"

Jumat, 12 Agustus 2016

Lantunan Al Qur'an Kiai Qomaruzzaman Banten

Berperawakan kecil, putih bersih, dan telapak tangan selembut kapas, Kiai Qamaruzzaman adalah satu dari sedikit kiyai sepuh yang masih tersisa. Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Padarincang, Banten, ini tak lain adalah cucu KiyaiAsnawi Caringin, sertasahabat Abuya Dimyati Cidahu, Pandeglang.
Abah Qomar―demikian kami menyebutnya―memiliki suara yang sangat indah dan menguasai qira’ah sab’ah.Muammar dan Khumaidi adalah beberapa qori’nasional yang mentashih qiro’ahnya kepada beliau.
Tetapi pada tahun 70-an, Abah Qomar yang kerap diundang menjadi qori’ itu terpaksa menghentikan kegiatan qiro’ah-nya.Pasalnya, lantunan Al Qur’an yang dibawakan Abah Qomar memengaruhi begitu banyak orang dengan hebatnya,menyebabkan mereka melakukan tindakan-tindakan tanpa sadar. Apabila Abah Qomar mengimami salat, makmum akan fana dan lupa membaca surah al fatihah.
Keadaan ini menyebabkan Kiyai Suhaimi, Kampung Sawah, Banten, mengeluarkan fatwa bahwa Abah Qomar haram menjadi imam. Selain itu, beliau juga difatwakan haram menjadi makmum karena tak seorangpun yang menyamai kefasihan dan pengetahuannya tentang AlQur’an.
Abah Qomar menurut.
Secara mengejutkan, ia mencabuti semua gigi yang dimilikinya hingga ompong. Dengan begitu, sirnalah kefasihannya, dan tak ada lagi yang akan mengundangnya menjadi qori’ atau memintanya menjadi imam salat. Beliau lalu membangun sebuah pondok pesantren di Padarincang, dan mengurangi aktifitas di luar rumah. (HOKI)

Mbah Lim, Rela di Adzab Demi Indonesia

Nadzar dalam kajian Fiqh merupakan suatu janji atau ikrar untuk menjalankan kebaikan secara khusus dan diamalkan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah
Tersebutlah Mbah Lim -panggilan populer KH. Muslim Imampuro, sosol kiai kharismatis yang tinggal di sebuah desa kecil di Sumberrejo, Kelurahan Troso, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jateng. Di Desanya itu, Mbh Lim sudah memangku "Pesantren Pancasila Sakti". Pesantren tersebt merupakan salah satu Pesantren tertua di Indonesia. Mbah Lim juga mendirikan sekolah formal hingg tingkat atas (SMA). Nama yang dilabelkan pun "keren", yaitu Kader Kampus Bangsa Indonesia (KKBI).Setiap ada kegiatan-kegiatan Pesantren. Mbah Lim selalu mengawalinya dengan menyanyikan INDONESIA RAYA. Mbah Lim Wafat pada Mei 2012.
Lantas, Apa Nadzarnya? Mbah Lim pernah bernadzar, dirinya siap diberi adzab Allah hingga terwujudnya Indonesia bersatu, adil, dan makmur. Aneh bin ajaib. Tiba-tiba, Mbah Lim tidak bisa berak sampai beberapa bulan, walau makan kenyang.
Orang pasti kaget, Siapa yang mau di adzab Allah hanya karena demi negara yang menyangkut kepentingan banyak orang, toh, Mbah Lim hanya Kiai Kampung, bukan Presiden maupun anggota Dewan yang memang bertugas mewujudkan Indonesia Bersatu, Adil, dan Makmur.

Jumat, 05 Agustus 2016

Sosok Kiai Idris Menurut Kiai Kafa Bihi Lirboyo


"Dalam pandangan saya Kiai Idris Marzuqi itu figur yang bijaksana dan dengan keluarga itu sering mengalah. Sehingga menjadikan keluarga bersatu. PERSATUAN BISA TERWUJUD DENGAN ADANYA PIHAK YANG MENGALAH.
Beliau juga seorang yang rendah hati atau tawadlu'. Saya itu adik misanan beliau. Tetapi beliau TIDAK PERNAH MEMANGGIL LANGSUNG NAMA SAYA. Beliau selalu memanggil saya dengan panggilan Cak Bik.
Contoh ketawadluan Kiai Idris yang lain, ini saya dengar dari sopir beliau. Bila mobil saya ada di depan, beliau pasti dhawuh ke sopirnya JANGAN MENYALIP.
Yang mengagumkan lagi dari Kiai Idris adalah istiqomahnya.
Kita tahu, sosok beliau ada yang mencintai juga ada yang membenci. Kepada Allah saja ada yang senang ada yang tidak. Para nabi juga begitu. Kiai Idris menghadapi orang-orang yang tidak senang dengan sikap ihsan. Tidak dibalas dengan sikap yang buruk.
Dengan kewafatan Kiai Idris, santri saya harap tetap tenang. Karena keponakan beliau alim-alim.
Kalian tidak perlu mutung pindah dari Lirboyo. Semoga kalian semua mendapatkan berkah dari Masyayekh Lirboyo."

*Disampaikan oleh KH. ABDULLOH KAFA BIHI MAHRUS dalam acara FIDAAN untuk Al Maghfur lah KH. A. Idris Marzuqi di Ndalem Timur.

Rabu, 11 Mei 2016

Syaikhona-Sya'ban

Syaikhona, nyanyian duka mendalam pada bulan Sya'ban, mendengarkannya seperti kembali kepada Sya'ban-sya'ban yang telah berlalu.
Asnawiyyah, entah semenjak kapan aku pertama kali mendengarnya, mungkin Langitan mengenalkanku lewat "Doa'uth Tholabah", meski terlupa aku selalu haru kala mendengarnya, energi Indonesia Roya benar-benar mengobrak-ngabrik hati tak peduli seperti apapun songnya.
Nanti malam aku harus ke jakarta, pergi bersama kenangan suka luka yang pernah kurasa bersama sang Ayah yang kini telah tiada.
Sya'ban selalu punya cerita duka mendalam, tanpa pernah kutahu kapan waktu menghentikan dukaku pada waktu.
Biarlah Sya'ban melekat erat pada namaku, namun aku mohon pada Tuhan, jangan eratkan Duka padaku selalu.
Yaa Rabby Nawwir Qalbana Binuri Qur'anin Jalla......
Fa'fu Idza lam Tardhou Fi A'malina.......

Selasa, 10 Mei 2016

Imam Sibawaih Bikin Bingung Malaikat

Diceritakan Imam sibawaih bisa selamat dari pertanyaan kubur.
Ketika itu setelah acara penguburan selesai...datanglah malaikat dngan wajah yg seram seraya bertanya dngan nada keras:
Malaikat: man robbuka?
Imam : tunggu tunggu tunggu,anda tanya saya man robbuka?
Malaikat: iya
Imam: itu yg anda tanyakan man nya itu man isim mausul/man isim syarat?
Kalo man isim mausul harus punya shilah...kalo isim syarat harus ada jawab syaratnya.
Malaikat bingung) ini orang ditanya kok malah balik naya?!....( malaikat kan gak belajar ilmu nahwu)
Malaikat: bentar bentar bentar...... Saya lapor dulu pada robbul 'izzah..
Malaikat: ya robb.engkau nyuruh hamba nanyain pertanyaan kubur pada orng yg baru saja di kubur.. Tp dai malah balik nanya:itu man nya man isim maushul/man isim syarat?.saya kan bingung.wong saya dulu gak ngaji nahwu.
Robb:siapa orang yg kau tanya?....
Malaikat: ea gak tahu wong saya belum sempet kenalan.kan saya datang langsung saya tanya.
Robb: ya udah,itu orang gak usah di tanya lagi Nanti kamu malah tambah bingung.


Rabu, 04 Mei 2016

Imam Ghazali dan Seekor Lalat

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaihul ‘Ibad menulis cerita seseorang yang berjumpa Imam al-Ghazali dalam sebuah mimpi. “Bagaimana Allah memperlakukanmu?” tanya orang tersebut.
Imam al-Ghazali mengisahkan bahwa di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yang ia serahkan untuk-Nya. Al-Ghazali pun menimpali dengan menyebut satu per satu seluruh prestasi ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan dunia.
“Aku (Allah) menolak itu semua!” Ternyata Allah menampik berbagai amalan Imam al-Ghazali kecuali satu kebaikannya ketika bertemu dengan seekor lalat.
Suatu saat Imam al-Ghazali tengah sibuk menulis kitab hingga seekor lalat mengusiknya barang sejenak. Lalat “usil” ini haus dan tinta di depan mata menjadi sasaran minumnya. Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu.
“Masuklah bersama hamba-Ku ke surga,” kata Allah kepada Imam al-Ghazali dalam kisah mimpi itu.


Senin, 04 April 2016

Kura-kura


Obor-obor Kecil di Jalan Sunyi
Pura-pura kura-kura sembunyi
Kepala tangan kaki
Mana mungkin kepala
Tegap menantang langit
Mana bisa Tangan
Memegang erat celurit
Mengayunkannya sembari berkata
Anjrit!!!!
Mana kaki berlari
Mengejar suara peluit
Pertama
Untuk membusungkan dada
Pun kura-kura tak kuasa
Ya, kura-kura sedang tidak berpura-pura
Hanya tahu bahaya akan menghampiri
Menyapa kelangkaan
Menuai pujian dan pundi-pundi dana
oh ternyata Kura-kura
Tiada hilang sombong
"Aku yang bodoh, masih saja kau buru"
Buru-buru aku tahu
"Siapa peduli Merdu-Sumbang, Arti takkan menilai Pintar-Bodoh"

Minggu, 27 Maret 2016

Gagal Itu

Gambar yang di bawah hanya fiktif belaka, "jodoh ngga nunggu khatam kok kang", kata seorang kawan dari grobogan jateng

Kamis, 24 Maret 2016

Puasanan 1436 H

Ini yang buat temenku, M Ahsan Dzul Hilmi, Pengurus PTYQ Putra menjabat sebagai sekretaris.
Jika ingin tahu maksud semua kata-kata diatas, jadilah santri setidaknya puasanan di PTYQ Putra Kudus di tahun 1437 H atay seterusnya.