Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2016

Imam Ghazali dan Seekor Lalat

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaihul ‘Ibad menulis cerita seseorang yang berjumpa Imam al-Ghazali dalam sebuah mimpi. “Bagaimana Allah memperlakukanmu?” tanya orang tersebut.
Imam al-Ghazali mengisahkan bahwa di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yang ia serahkan untuk-Nya. Al-Ghazali pun menimpali dengan menyebut satu per satu seluruh prestasi ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan dunia.
“Aku (Allah) menolak itu semua!” Ternyata Allah menampik berbagai amalan Imam al-Ghazali kecuali satu kebaikannya ketika bertemu dengan seekor lalat.
Suatu saat Imam al-Ghazali tengah sibuk menulis kitab hingga seekor lalat mengusiknya barang sejenak. Lalat “usil” ini haus dan tinta di depan mata menjadi sasaran minumnya. Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu.
“Masuklah bersama hamba-Ku ke surga,” kata Allah kepada Imam al-Ghazali dalam kisah mimpi itu.


Minggu, 20 Maret 2016

Kiai dan Burung Beo




Kiai karim adalah seorang kiai yang ‘alim, beliau punya banyak santri yang menetap dipesantren asuhannya, meski seorang kiai, kiai karim punya hobby unik, mengoleksi burung dan memeliharanya, sesekali setiap pagi selepas mengajar ngaji beliau mendengarkan cuitan-cuitan burung koleksinya, diantara banyak burung yang beliau miliki, burung beo-lah satu-satunya yang rutin mendapat perhatian dari kiai karim
Karena burung beo dapat menirukan suara manusia, kiai karim mengajarinya dengan macam-macam dzikir, seusai mahir “berdzikir”, setiap hari, pagi-sore beliau sempatkan sekira berapa waktu untuk mendengarkannya, hitung-hitung ikut serta berdzikir bersama burung beo, batinnya.
Hingga suatu ketika, beo yang kerap menjadi teman berdzikirnya itu mati, kiai karim terlihat murung dan kurang bergairah kala mengisi pengajian kitab dipesantren yang diasuhnya.
“semenjak kematian beo, kiai karim tampaknya kurang bergairah ya kang?, sebagai santri kita harus melakukan sesuatu agar kiai karim bisa mengajar seperti sedia kala”, ujar kang miftah, salah seorang santri dipondok kiai karim.
“bagaimana kalau kita patungan buat beli beo lagi?”, usul salah seorang santri.
“nanti siapa sowan dan memberikan beo baru ke pak kiai?”
“kita berangkat bersama, biar nanti saya yang angkat bicara” tegas kang miftah.
Pundi-pundi rupiah telah terkumpul dari hasil patungan santri-santri, kang miftah dan kawan-kawan pergi ke pasar burung di kota dan mendapatkan seekor burung beo yang paling bagus dan cerdas dalam menirukan suara.
Tiba saatnya kang miftah sowan dikediaman kiai karim guna memberikan hadiah pelipur lara.
“pak kiai, kedatangan kami kesini dalam rangka memberikan burung beo ini yang kami beli atas inisiatif kami sendiri”
“kami melihat pak kiai murung dan terlihat begitu bersedih, setelah kami telusuri, burung beo itulah penyebab kesedihan pak kiai akhir-akhir ini”
Kata kang miftah mengawali pembicaraan.
“begini kang…”
Seraya menghela nafas, kiai karim ancang-ancang bermaksud menerangkan.
“Bukan semata-mata karena kematian burung beo itu aku bersedih. ketika mati, beo milikku mengorok keras seolah-olah putus segala saraf yang ada padanya, padahal semasa hidupnya, beo itu adalah temanku berdzikir pagi sore, kematiannya membuatku bersedih dan berfikir, jika beo yang menghabiskan hidupnya untuk berdzikir kepadanya saja harus mati dengan begitu menakutkan, tak ada satu pun kalimah dzikir yang keluar darinya, kalau beo ahli dzikir itu bisa mati sebegitu mirisnya, lantas bagaimana nasibku kelak? Khusnul khotimah-kah?
Kiai karim menceritakan semua tentang kematian beo tersebut dengan mata sembab dan masih ada banyak cucuran air mata beliau yang mau saja keluar dari lubang-lubang kecil dipojok matanya.
Kang miftah dan kawan-kawan yang ikut sowan ikut terenyuh mendengar cerita kiai karim barusan.

24-02-2015/05-05-1436

Kamis, 17 Maret 2016

Legenda Sang Raja Hutan



“yang paling besar yang menjadi pemimpin” itu peraturan hutan saat itu yang sedang berlaku. Semakin besar hewan maka semakin besar pula kekuasaannya. Maka tak ayal gajah yang memiliki tubuh paling besar menjadi raja. Gajah sering memerintah anak buahnya dengan menunjuk-nunjuk menggunakan hidungnya. Mungkin karena itulah hidungnya menjadi panjang.
Dalam hukum seperti itu hewan yang bertubuh kecil sering menjadi korban, kerbau sering menghajar kambing, kambing mem-bully anjing, dan anjing akan mencari korban yang lebih kecil lagi dan seterusnya.
“ini sungguh tak adil” kata kucing pada suatu hari kepada ayam
“maksudmu?” Tanya ayam sambil mengorek-ngorek tanah mencari sarapan
“kita tak bisa mengukur seekor hewan hanya dari besar tubuhnya”
“trus berdasarkan apa?”
“tentu saja dari kemampuannya, karena ukuran tubuh tak selalu berbanding lurus dengan kemampuan seekor hewan. Kau lihat babi yang sering mengganggu kita. Bisa apa dia. Dia tak punya cakar seperti aku. Tak punya paruh seperti kamu. Kerjanya hanya malas-malasan, hanya karena dia berbadan lebih besar dari kita dia merasa berhak untuk menghajar kita.”
“lalu kau mau apa?” kata ayam sambil terus mengorek tanah karena belum juga mendapatkan apa yang dicari.
“aku mau protes kepada raja. Aku akan minta kepada raja untuk mengganti peraturan”
“tentu beliau tidak akan mau, karena itu sama saja dengan menyuruhnya turun tahta.”
“aku akan memaksanya” kata kucing
Ayam berhenti mengorek tanah, bukan karena menemukan cacing, tapi memastikan bahwa temannya masih cukup waras mengatakan akan memaksa raja hutan.
“kalau kau lakukan itu, kau sama dengan menyetor nyawamu.”
“aku tak peduli’ kata kucing. Maka kucingpun berangkat ke pusat hutan untuk menemui sang raja.
***
Di tengah perjalanan kucing bertemu dengan kupu-kupu hewan bijaksana dari dunia serangga. Dan kucing menceritakan semuanya kepada kupu-kupu
“kalau kau melakukan itu, kau sama saja mengubah seluruh hutan” kata kupu-kupu
“tentu saja, memang itu tujuanku.”
“kau yang sekarang takkan mampu melaukannya”
“kenapa tidak?”
“lihatlah dirimu, dengan sekali injak saja kau akan mati”
“lalu apa yang harus kulakukan? Diam saja dan berharap akan ada keajaiban begitu?”
“dengar makhluk kecil” kata kupu-kupu
Aku lebih besar darimu. Batin kucing
“ketika kau ingin merubah dunia” lanjut kupu-kupu “pertama-tama kau harus mampu merubah dirimu”
“merubah diriku?”
“ya, kau harus bertapa, dan kalau kau mau aku bisa mengajarimu”
Dan kupu-kupu mengantarkan kucing sampai ke mulut gua.
“kau harus bertapa di dalam gua ini selama 99 hari, tanpa makan dan minum”
“99 hari? Kalau aku mati bagaimana?”
“kalau kau tak mampu bertahan dalam perjuangan mengubah dirimu sendiri. Bagaimana kau bisa bertahan dalam perjuangan mengubah hutan?”
Mulailah kucing bertapa di dalam gua. Hingga hari ke-99 kucing menyelesaikan pertapaannya.
Ketika ia keluar dari gua dia melihat bahwa mulut gua semakin mengecil, bahkan tumbuhan yang ada di depan gua juga mengecil.
Ah mungkin banyak hal terjadi selama aku bertapa, pikir kucing. Tapi bukan hanya tumbuhan, hewan-hewan ia temui juga semakin mengecil dan memandang heran kepada kucing. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa bukan tumbuhan atau hewan itu yang mengecil, tapi dialah yang menjadi besar.
Ketika kita telah berubah maka dunia akan tampak berbeda.
***
“aku tak tahu apa yang telah kau lakukan, tapi selamat untukmu” kata gajah kepada kucing besar-begitu penduduk hutan menyebutnya- “kau telah berubah menjadi lebih besar dan meningkatkan derajatmu”
“Aku ke sini ingin engkau merubah peraturan yang telah ada karena seekor hewan tak bisa dinilai berdasarkan ukuran tubuhnya tapi berdasarkan kemampuannya”
“kau ingin mengatakan bahwa aku tak pantas menjadi raja?” kata gajah mulai marah
“kau pantas menjadi raja kalau kau memang kemampuanmu melebihi kami semua”
“hai kucing” kata gajah, kali ini dia benar-benar marah “tubuhmu memang sedikit lebih besar dari sebelumnya tapi bukan berarti kau bisa mengaturku, KARENA AKU LEBIH BESAR DIRIMU”
“kalau begitu aku akan mengalahkanmu”
“Silakan, kalau kau memang mampu”
Maka terjadilah duel bersejarah itu. Gajah dengan gading dan tubuh besarnya. Kucing besar dengan cakar dan taringnya. Berdasarkan kekuatan, gajah jelas jauh lebih unggul, tapi dari sisi kecepatan, gajah mau tak mau harus mengakui kelebihan kucing besar. Setiap serangan yang diluncurkan gajah selalu dapat dihindari oleh kucing besar dan kemudian berbalik menyerang gajah. Apalah arti serangan yang kuat kalau itu tak mengenai sasaran. Sesekali kucing besar terkena gading gajah, tapi tentu saja itu tak membuatnya menyerah. Dan sambil menghindari serangan gajah ia melakukan serangan balik.
Sampai akhirnya dengan penuh luka cakar dan gigitan di tubuhnya sang gajah menyerah. Dengan kekalahan gajah maka secara resmi kucing besar menjadi sang raja hutan. Dan sejak saat itu penduduk hutan memanggilnya singa sang raja hutan.





Selasa, 15 Maret 2016

Pesawat dan Kura-kura


Alkisah, ada pesawat dan kura-kura. Keduanya bersahabat baik. Mereka ingin pergi ke suatu tujuan.
Namun ada masalah di antara mereka berdua. Pesawat ingin sampai dengan cepat dengan tenaga mesinnya, sedangkan kura-kura berjalan lambat sekali. Karena mereka sudah bersahabat sejak lama, pesawat pun sudi untuk menunggu.
"Cepet woi!! Kesuwen!!"
Karena itulah mereka berdua tidak sampai-sampai ke tempat tujuan.
Pesawat dan kura-kura hanyalah simbol. Pesawat itu simbol apa, kura-kura itu simbol apa. Pesawat adalah ilmu pengetahuan yang ingin cepat-cepat dan berkembang pesat. Dihambat oleh sikap tradisional orang-orang yang dikit-dikit mengharamkan atas dasar agama. Bukan berarti agama adalah penghambat kemajuan. Wallahu a'lam.
#

Minggu, 26 April 2015

Sholeh-Sholehah

Mbah Sholeh, begitu teman-teman menyebutnya.
Mudah sekali menemukan orang sholeh-sholehahdi dunia maya, ceramah, dzikir, dan doa bisa ditemukan dimana-mana.
Postingan berupa tulisan, tautan, maupun foto. seolah-olah menunjukan dirinya adalah kekasih Allah yang sesungguhnya.
Namun.......
Sulit sekali menemukan sholeh-sholehah dalam dunia nyata.
Masjid sepi saat mall-mall ramai. Yang kaya shoping, anak-anak Yatim tak punya baju baru untuk dipakai kala lebaran tiba.
Apalah arti kepedulianmu kepada Palestine, kalau doa-doamu untuk mereka tercurah di Socmed, sedangkan masjid-masjid di sekitarmu sepi tak berpenghuni.
Apalah arti kekayaanmu bila anak-anak yatim disekitarmu cuma bisa sahur dengan lauk sayur kol.
Entah ini sebuah kemunafikan atau program tutup aib diri sendiri, aku tak mengerti.
Sudahlah, sampai kiamat kurang setengah jam pun mengurusi urusan orang lain tak akan pernah selesai.

Minggu, 08 Maret 2015

Kopi Anti Bid'ah

Ini adalah cerita dari seorang sahabat ketika di pesantren dulu. Al-Kisah ada salah seorang penganut Wahabi bertamu kepada salah seorang kiai yang bertujuan ingin mempermasalahkan amalan warga nahdiyyin tentang menggerakan kepala saat membaca kalimat thayyibah(laa ilaa ha illallah).
Si Wahabi berargumen bahwa amalan tersebut tidak diajarkan oleh Nabi saw.
Singkat cerita, kiai menyuguhkan secangkir kopi tanpa diaduk untuk tamu Wahabi tersebut.
“Monggo diunjuk(diminum),” kiai mempersilakan.
Jawab Wahabi,“Na’amUstadz.”
Saat Wahabi menyeruput kopi, tiba-tiba ia berhenti. Ia berkata, “Afwan Ustadz, kok rasa kopinya pahit ya!”
“Oh ia tadi saya sengaja tidak mengaduknya,” jawab Kiai.
Tanya wahabi, “Loh kenapa Ustadz?”
“Ya itu jawaban untuksampean yang mempermasalahkan membaca kalimat thayyibah(laa ilaaha illallah) dengan menggerakan kepala, sama dengan kopi tadi, jika tidak diaduk ya rasanya pahit,” kata kiai sambil tersenyum.
Tamu Wahabi diam dan tidak lama langsung pamit pulang.

Kamis, 25 Desember 2014

Ibarat Pembalap GP

Ibarat kita para pembalap moto jipi,aku duduk manis di tribun melihat mereka balapan sambil menikmati secangkir kopi dan sebungkus gudang garam yang di selimuti abu vulkanik gunung kelud.
Aku seperti pembalap yang kehilangan motor dan cedera parah hingga aku sendiri tak tahu kapan aku mulai mengejar mereka meski harus tanpa poin sepeser pun.
Maaf ku sampaikan pada para pendukungku,entah yang ikut urun bensin atau cuma menyanyikan yel-yel dan memasang spanduk motifasi di hatiku,di hidupku.

Minggu, 14 September 2014

Tumpas Rasa Malas


“Seandainya”, kalimat ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari. Disadari atau tidak, sebagian besar orang boleh jadi biasa mengucapkannya, “Seandainya aku melakukan ini, tentunya begini dan begini, tidak justru begini.” Ungkapan ini berkonotasi sebagai angan-angan semu dan sesuatu yang tidak akan terjadi.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sangat tidak menyukai umatnya mengumbar kata-kata “seandainya”. Beliau mewanti-wantikan kepada mereka bahwa kalimat “lau” (seandainya) adalah tipu daya setan. Orang yang selalu mengumbar kata ini adalah pemalas yang hanya bisa berhasrat tapi tak bersemangat.
Jika kita sudah benar-benar dijangkiti rasa malas, maka cepat-cepatlah berusaha melawan dan membuangnya jauh-jauh. Malas adalah sifat buruk yang wajib dihindari oleh semua muslim. Malas adalah ciri-ciri orang munafik. Firman Allah dalam al-Qur’an (artinya):
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS an-Nisa’ [4]: 142)
Jika kita mulai kedatangan tamu yang bernama ‘malas’ dan kita ingin mengusirnya, berikut ini beberapa tips yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

1) Perbanyak Doa
Doa adalah senjata orang mukmin, begitulah Nabi menegaskan. Ibnu Qayyim dalam karyanya al-Jawâb al-Kâfî li Man Sa’ala ‘anid-Dawâ’ asy-Syâfi, menjelaskan bahwa obat mujarab untuk menyembuhkan jiwa orang mukmin yang sudah terjangkiti berbagai penyakit adalah berdoa dan bersungguh-sungguh dalam doa. Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menanggulangi rasa malas adalah:
اللَّÙ‡ُÙ…َّ Ø¥ِÙ†ِّÙŠ Ø£َعُوذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†ْ الْÙ‡َÙ…ِّ ÙˆَالْØ­َزَÙ†ِ ، ÙˆَØ£َعُوذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†ْ الْعَجْزِ ÙˆَالْÙƒَسَÙ„ِ ÙˆَØ£َعُوذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†ْ الْبُØ®ْÙ„ِ والْجُبْÙ†ِ ، ÙˆَØ£َعُوذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†ْ غَÙ„َبَØ©ِ الدَّÙŠْÙ†ِ ÙˆَÙ‚َÙ‡ْرِ الرِّجَالِ. رواه أبو داود
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesusahan, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan sifat malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan pengecut, dan aku berlindung pada-Mu dari hutang yang tak mampu ditanggung serta kesewenangan orang yang tak mampu dilawan.” (HR Abu Dawud)
                                 
2) Lawanlah Setan dan Nafsu
Malas sebenarnya berasal dari setan. Setan akan terus berusaha mengusik dan membujuk nafsu manusia untuk malas, baik dalam menunaikan ibadah maupun dalam aktivitas yang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:
“Setan mengikatkan tiga ikatan di belakang kepala salah seorang dari kalian ketika tidur. Pada setiap ikatan setan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah.” Apabila salah seorang dari kalian terjaga dari tidur, lalu menyebut nama Allah, maka akan terlerai satu ikatan. Jika ia mengambil wudu, maka terlerai satu ikatan lagi. Dan jika ia salat, maka terlerailah semua ikatan. Jika demikian, maka ia akan bangun di waktu pagi dalam keadaan rajin serta lapang hatinya. Jika ia tidak (melakukannya), maka ia bangun pagi dalam keadaan buruk jiwanya dan diliputi rasa malas.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibn Hibban, dan lainnya)
Hadis ini menunjukkan bahwa malas berasal dari setan dan kita harus berusaha terus melawannya dengan tidak menuruti apapun yang dibisikkan olehnya. Jika setan sudah bisa dikalahkan, maka malaspun akan hilang.

3) Menimba Ilmu
Timbalah ilmu sebanyak mungkin. Dengan ilmulah seseorang akan menjadi orang yang rajin dan cekatan dalam hidupnya. Mengapa ilmu? Apa hubungan antara ilmu dengan rajin? Gambaran sederhananya begini: ketika seseorang sudah mengetahui (memiliki ilmu) tentang fadilah dan keutamaan ibadah tertentu, maka pastinya akan menyebabkan ia rajin melakukan ibadah tersebut. Hal itu apabila dia memiliki keyakinan yang kuat tentang apa yang dipelajari. Orang yang memiliki ilmu mengenai keutamaan salat jamaah, ia akan terdorong untuk rajin mengerjakan salat jamaah. Begitupun ketika seseorang tahu bahwa malas berasal dari setan dan merupakan sifat orang munafik, dia akan memiliki dorongan untuk mengusirnya.
Sejalan dengan hal tersebut, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isyak dan salat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan datang untuk salat walaupun harus merangkak.” (HR an-Nasa’i, ath-Thabrani, dan al-Baihaqi)
Sabda tersebut menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan mengenai hakikat sesuatu. Ilmu menyebabkan semangat dan sikap seseorang terhadap sebuah amal berubah 180 derajat. Ilmu akan menuntun seseorang untuk rajin dan cekatan dalam mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.


Minggu, 03 Agustus 2014

Kontrak Seumur Hidup



Kita punya jalan dan cobaan masing-masing dan perkumpulan dalam majlis kopi takkan bisa seperti dahulu lagi, tapi kita sama, sama-sama memegang "Kontrak seumur hidup".
Sesuatu yang mestinya kita jaga, sesuatu yang hanya akan hilang tanggungannya bila telah ada masa dimana manusia bakal mengalami semuanya.
Kita bukan sekumpulan anak muda yang hidupnya hanya dihabiskan untuk ngopi saja, kita punya tugas lain yang tidak dikerjakan oleh anak muda lain, lebih berat dari memikul beratnya sekarung beras, lebih indah dari apapun di dunia ini.
Penampilan kita berbeda, bahasa kita berbeda, daerah kita berbeda, namun tujuan kita sama.

Tertawa Dan Tersenyum

Seorang perempuan bijak masuk ke suatu posko korban bencana dan menceritakan sebuah lelucon.
Semua orang tertawa...lalu perempuan itu mengulangi leluconnya, kali ini hanya beberapa saja yang tertawa..5 menit kemudian perempuan itu menceritakan lagi lelucon itu..dan tidak ada satu orangpun yang tertawa.
Sambil tersenyum manis perempuan itu berkata "Bila kalian tidak bisa tertawa berulang-ulang pada lelucon yang sama, mengapa kalian menangis berulang-ulang pada masalah yang sama?"

Jumat, 07 Februari 2014

Kebohongan Instan



                                                             
    Ada kaidah tak tertulis yang berbunyi ‘’tidak ada yang instan di dunia ini’’,meski kaidah tersebut ada bukan berarti tanpa kontroversi,dewasa ini kata instan sudah ada dimana-mana baik produk makanan maupun yang produk-produk lainnya.Pertama melihat suatu makanan bertuliskan mie instan kukira makanan itu tanpa perlu diapa-apakan lagi untuk menikmatinya,nyatanya setelah aku beli mie instan aku masih harus membuka bungkus dan memasaknya.
    Mungkin instan artianku berbeda dengan artian sampean-sampean,yang jelas menurutku  instan adalah hasil dari ketiadaa proses berarti,bila mie instan masih melalui proses memasak ya menurutku belum lulus dikatakan instan.
    Hal itu baru kusadari beberapa waktu lalu,kala aku menulis sebuah cerita seorang kawan,tulisanku ternyata masih sangat jelek dan agak ngga enak dibaca,menurutku,sesaat seusai aku menulisnya,aku memutuskan untuk merenggangkan otot otak kiri dengan kawan-kawan di majlis kopi,frustasi memang ada saat aku membacanya kembali,beberapa hari kemudian tulisan yang aku tulis dengan susah payah itu aku edit dan alhamdulillah sekarang sudah jadi.
     Menulis saja butuh proses panjang,banyak fase-fase yang kudu dilewati dari menulis secara tradisional menggunakan pulpen sampai diketikan sambil diedit.
     Instan langsung ‘’ting’’ hanya ada disurga,selebihnya proses mempengaruhi hasil walaupun Cuma sekedar saja,sejarah mencatat proses dan perjuangan ,bukan hasil yang didapatkan, ‘’al-ajru bi qadri ta’ab’’ ,hasil itu tergantung pada tingkat kesulitan proses.
     Konon,pemilik ilmu laduni pun harus membaca terlebih dahulu sebelum dia benar-benar menghafalnya diluar kepala
.

Rabu, 22 Januari 2014

Aku Tak Mengira

  Liburan maulid kali ini berbeda dengan liburan-liburan maulid sebelumnya,selain nominal harinya yang lebih sedikit,pondok terlihat lebih sepi tentu saja bila dibandingkan dengan liburan apapun,maulid,sya’ban,maupun lebaran.cuaca yang tak menentu menambah daftar alasan sepi dipondok,malam sampai malam lagi,air hujan tumpah terus,seperti danau besar diatas langit yang bocor saja.
   Rencana pulang pagi menggunakan bus nusantara kudus-tegal gagal total,penyebabnya semalaman melek mentelengi hape dan sepak bola atletico vs barca,awal liburan selalu menggiurkan untuk dinikmati,kapan lagi?,semuanya jadi dosa bila dilakukan saat pesantren aktif oleh seabrek kegiatan,larangan dan kewajiban tak bisa dipisahkan,peraturan (yang seharusnya) berjalan tanpa ampun diatas semua jenis santri pondok.
   Aku pulang sehabis dhuhur,sebetulnya sich menunggu hujan terang,namun tak sawang-sawang ngga mungkin,menunggu hujan terang sama dengan menunda pulang sampai beberapa jam kedepan,akhirnya kuterjang rintik air keraguan,antara  hujan dan gerimis.
   Dari prapatan menara menuju terminal jati kudus menghamparkan pemandangan festival kaum klenteng tepat di sekitar matahari kudus,jalanan macet lumayan lama,antusiasme penonton kulihat tak luntur meski emper jalan licin,terlihat anak-anak hingga yang sudah beranak,aku yang duduk menghadap ke belakang tak sengaja nguping pembicaraan dua orang di belakangku yang bukan lain ialah pak supir angkot ungu jetak dengan seorang wanita baya china,
’’perbedaan tak usah lagi dipermasalahkan,yang terpenting adalah kepatuhan kita pada Tuhan yang kita yakini’’ucap pak supir beruban jarang,aku tercengang,seorang supir angkot bicara tentang perbedaan yang selama ini di Indonesia menjadi problem abadi.
‘’oh ya to ya,wong kita hidup sementara kok’’balas wanita bermata sipit di sampingnya.
  Aku semakin penasaran pada pembicaraan mereka,kudengarkan seksama seraya melirik kanan-kiri,melihat gadis-gadis SMP pulang sekolah
‘’huft,’’aku menghela nafas,
‘’lha iyo,semua agama punya misi sama dalam masalah kedamaian,buat apa bertengkar’’kata pak supir itu.
    Seorang supir dan ibu bermata sipit itu tak terlihat seperti berpendidikan tinggi namun membicarakan masalah berating tinggi,apalagi aku mengerti bahwa dua orang di depanku itu berbeda agama,aku mengerti pembicaraan mereka yang samar,aku mengerti.......
Namun aku tak mengira masih ada liliput yang perkasa,yang dengan gagahnya cuek akan perbedaan.
   150114

Rabu, 15 Januari 2014

Nashihat Mbah Arwani Edisi Wudhu



    
Jadilah orang yang selalu suci (punya wudlu’) Karena dengan wudlu kita dijaga oleh malaikat, dan wajah kita bisa bersinar sehingga orang lain senang melihat kita.