Tampilkan postingan dengan label Qur'aniyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qur'aniyyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2015

Selayang Pandang Shifatul Huruf




                               
Setelah kita mempelajari makhorijul huruf, kita juga di wajibkan untuk mempelajari sifatul huruf.yang mana sifat adalah komponen yang tak dapat dipisahkan dari sumbernya yaitu makhroj. Sifat adalah keadaan, sedangkan sifatul huruf adalah keadaan ketika membaca huruf.

SIFATUL  HURUF ADA DUA YAITU LAZIMAH DAN ’ARIDLOH :
1 ).LAZIMAH  : Sifat yang menetap pada satu persatu huruf.
2 ).’ARIDLOH : Sifat yang datangnya setelah sifat lazimah seperti sifat tafhimnya huruf isti’la’  tarqiqnya
 huruf istifal, tafhim tarqiqnya huruf lam dan ro’, dan sifat – sifat bacaannya huruf yang
 sudah tersusun sebab bertemu huruf lain contoh idzhar, idgom, ikhfa’ dll.

Makroj kami ibaratkan sebagai alat penimbang dan sifatnya sebagai jarum pengontrol barang yang sedang diproses dalam pabriknya. Sifat juga bisa dikatakan sebagai gaya atau model bacaan huruf. Dengan menepatkan makhrojnya huruf, secara otomatis kita akan bisa mengetahui sifatnya itu huruf, tanpa mengurangi dan menambahnya sehingga kita akan tahu gaya dan modelnya masing –masing sifat, seperti : hams, rokhowah, syiddah dll.Perlu diketahui pula bahwa setiap huruf minimal mempunyai 5 sifat dan maksimal mempunyai 7 sifat.

Menurut imam ibnu al-jazari sifatul huruf itu ada 18, yang 10 mutadlooddah dan yang lainnya adalah maziyah dari huruf-huruf tertentu, seperti sofir, qolqolah, istitholah, tafasysyi, dll.yang kesemuanya itu hanya untuk mensifati 28 huruf hijaiyyah selain alif. Karena sifat dari huruf alif itu mengikuti huruf sebelumnya, jika sebelunnya alif berupa huruf tafhim alif terkena sifat tebal, jika sebelum alif berupa huruf tarqiq alif teradiasi sifat tipis. Sebab makhrojnya alif berada pada ruangan mulut yang longgar dan bebas bersama kedua kawannya yaitu wawu dan ya’ sehingga alif tidak mempunyai sifat tertentu.

Perlu diingat pula bahwa istilah dalam sifatil huruf itu adalah nafas yang ditekan dari dalam dada sehingga menjadi suara, yang suara itu memusat pada makhrojnya sehingga menjadi huruf. Jadi antara nafas dan suara itu bekerja bersama untuk menciptakan huruf, yang apabila nafas itu terbayangkan menjadi suara semua sehingga menjadi suara yang kuat maka huruf itu mempunyai sifat jahr, contohأض    jika sebagian nafas itu menjadi suara yang berjalan bersama huruf dan sebagian yang lain berupa nafas itu dinamakan sifat hams contoh أس kalau suara huruf itu tertahan dalam makhrojnya dinamakan sifat syiddah contoh  أج  sebelum di qolqolahkan jim tertahan.

  # TANBIH.......!!!!!!!

Membaca al-qur’an yang semestinya, bukanlah suatu perkara yang bisa di percepat atau instant, walaupun usaha atau metode mempercepat itu selalu ada. Karena al-qur’an adalah amal ibadah yang bernilai agung yang dapat mensyafaati orang yang membaca dan syafaatnya di terima. Oleh karenanya untuk menghasilkan bacaan yang bagus dan benar membutuhkan waktu yang lama, ahlul ilmi mengatakan الاجربقدرالتعب upah sesuai dengan usahanya.Untuk itu kita dituntut agar berusaha semaksimal mumkin dalam mempelajari al-qur’an dengan tidak melebihi batas makhroj dan sifatnya .Syekh al-jazari berkata ;

مكملامن غيرما تكلف  #  باللطف في النطق بلا تعسف

Yang artinya : menyempurnakan bacaan dengan tidak melebihi batas, dengan halus, jelas, enak kedengaran bacaanya tanpa mengurangi ketentuan dari makhroj dan sifat dari huruf yang kita baca.
          Dengan saduran dari nadzom diatas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam kita membaca al-qur’an harus bisa menjaga dari terlalu menjelaskan dan memisah – misahkan hurufnya sehigga keluar suara tambahan (e’) atau yang disebut tawallud ( mengadakan huruf baru ), atau terlalu perlahan – lahan membacanya sehingga molor, atau terlalu lama jaraknya antara huruf yang satu dengan huruf yang lain sehingga putus – putus atau terdengar seperti bacaan saktah, atau membaca dengung terlalu lama atau malah di kurangi, atau terlalu memanjangkan mad sehingga suaranya menjadi mondar – mandir kesana kemari, atau terlalu cepat membacanya sehingga hurufnya terlipat – lipat.
          Sekian sekilas tentang sifatul huruf semoga dapat diambil manfaat serta menambah wawasan kita dalam mempelajari ilmu tentang tajwid Al-qur’an.
Kudus, 01 ramadlan 1433 H
                                                                                                                                  *Santri PTYQ pusat

Minggu, 24 Mei 2015

Sekilas Tentang Makhorijul Huruf






مخارج  adalah bentuk jamak dari isim makan مخرج yang fi’il madhinya خرج yang berarti keluar. Kalau مخرج artinya tempat keluar dan ketika dijamakkan artinya beberapa tempat keluar.
Disini kami coba menguraikan/mengenalkan tentang   مخارج الحروف   lewat goresan tinta semoga bisa difahami dan diamalkan serta bermanfaat.

·       Yang pertama tentang hukum mempelajari.
Syekh Al Jazari berkata ;
اذ واجب عليـــــــهم محتم  #  قبل الشروع اولا ان يعلموا
مخارج الحروف والصفات  #   لينفظــــــوا با فصح اللغات
Yang artinya: Sangat wajib hukumnya bagi orang –orang yang akan membaca al-qur’an mengetahui makhorijul huruf dan sifat huruf,supaya bisa melafadzkan huruf al-qur’an dengan fasih.

Huruf hijaiyah yang jumlahnya ada 29 itu masih ditambah beberapa huruf cabangnya,seperti yang terdapat dalam wujuhul qiro’ah (wajah qiro’ah) yang mutawatir dari nabi SAW seperti hamzah yang dibaca tashil, alif yang dibaca imalah, lam yang dibaca taglidz(tebal) dan shod yang dibaca isymam, Kesemuanya itu adalah merupakan huruf-huruf yang fasih yang memiliki ketentuan makhroj dan sifat tertentu.

Makhroj adalah tempat keluar,sedang makhorijul huruf adalah beberapa tempat keluarnya huruf. Untuk memahami huruf perlu diketahui bahwa huruf itu kejadiannya dari suara yang dipusatkan pada tempat tertentu yakni makhroj. Kalau suara itu tidak dipusatkan pada tempat tertentu maka tidak berupa huruf atau yang disebut mutlaknya suara atau suara bebas. Contoh : suara hewan,suara kendang ,suara –suara lain yang tidak menepati makhrojnya huruf.

Proses kejadian huruf adalah dari suara,sedangkan suara bahannya dari nafas,nafas adalah angin yang dikeluarkan dari dalam dada sampai mulut.Angin yang keluar dengan tekanan biasa namanya nafas,sedangkan angin yang keluar dengan tekanan yang kuat akan menjadi suara ,dan jika dipusatkan pada tempat tertentu akan menjadi huruf.

Kalau sudah faham dimana letak makhrojnya huruf  maka praktekkan dan rasakan betul-betul dimana pusat suara huruf yang anda ucapkan / bunyikan.untuk lebih mudahnya dimana letak huruf yang kita bunyikan kita matikan atau kita sukun huruf tersebut kemudian kita datangkan hamzah wasol.

Contoh   اَبْ  اِبْ  اُبْ yang mana pusat suaranya ba’ adalah kedua bibir .Ini berbeda lagi dengan huruf ‘ain ,ha’ dan hamzah yang pusat suaranya adalah tenggorokan ,bibir tidak usah bergerak  dan berbeda lagi dengan dal,ta’ dan tsa ‘ yang wajib bekerja adalah lidah.
Dalam kitab yanbu’a juz 7 diterangkan  bahwa tempat keluarnya huruf itu ada 17,yang kesemuanya itu hanya terakomodir pada 5 tempat
الجوف , الحلق , اللّسان , الشفتين , الخيشوم

·       Yang kedua adalah hukum mengamalkan
Syekh Syamsuddin berkata
والاخذ بالتجويد حتم لازم  #  من لم يجودالقران آثـــم
لأنه به الا لـــــــــه انزلا  #  وهكــذا منه النياوصلا
Yang artinya : Mengamalkan tajwid itu hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap muslim mukallaf yang membaca alqur’an,dan berdosalah orang yang membaca alqur’an tanpa tajwid ,karena Allah SWT menurunkan alqur’an dengan disertai tajwid dalam membacanya dan begitulah sampai pada kita.


·       Yang ketiga adalah usaha yang keras dan sungguh-sungguh
Untuk menghasilkan bacaan yang bagus dan betul harus ada usaha yang keras, jangan bermalas-malasan dan dengan disertai guru yang ahli yang mempunyai sanad sampai Rosululloh,karena tidak ada artinya kita belajar tanpa diamalkan/dipraktekan.
Syekh Al Jazari berkata
وليس بينه وبين تركه # الا ريا ضة امرء بفكه
Artinya : tidak ada bedanya mengetahui tajwid dan tidak , kalau tidak mau melatih lisannya dan menggurukan bacaan alqur’an dengan sungguh-sungguh dan memperbanyak mengulang bacaannya.
Yang dimaksudkan riyadhoh disini adakah riyadhotul lisan/melatih lisan disiplin membaca dengan baik,dan riyadhoh ini dihasilkan dengan memperbanyak mengulang dan mengambil bacaan dari guru yang ahli,yang lebih dikenal dengan istilah musyafahah/talaqqi.
Yang pada intinya untuk lebih menghasilkan mahroj yang bagus harus berani melakukan KB(Kudune Banter/Keras dan Banter) main bibir atau yang lebih dikenal dalam pondok yanbu’dengan istilah M3(mecucu mecece mangap) insyaallah dengan usaha yang maksimal disertai tawakkal kita akan ditunjukkan pada tempat mahroj yang benar .
Semoga kita digolongkan ahli qur’an yang mendapat ridho Allah dan dimudahkan segala tujuan kita yang baik. Amiin


Ust Yusrul Muna
Penulis sekaligus guru pengunggah artikel ini.




























                                 


Rabu, 13 Mei 2015

Alif Lam Mim



Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pahala membaca Al Quran adalah sepuluh kebaikan di setiap hurufnya. Dalam hadits tersebut Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam mencontohkan dengan “alim lam mim” (الم). Dimana “alif lam mim” bukan terhitung satu huruf melainkan “alif” satu huruf, “lam” satu huruf dan “mim” satu huruf. Nah pertanyaan selanjutnya adalah kenapa Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam menggunakan “alif lam mim” sebagai contoh, bukan yang lainnya, “al hamdu lillah” misalnya.
alasannya adalah, “alif lam mim” oleh banyak mufasir ditafsiri dengan “wallahu a’lam bi murodihi” (hanya Allah yang tahu maknanya). Dengan menggunakan contoh tersebut seolah Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam  ingin menunjukkan kepada kita bahwa membaca Al Quran seperti alif lam mim, yang jangankan kita orang non arab, orang arab sendiri bahkan banyak mufasir tak mengerti maknanya itu sudah mendapat pahala sepuluh kebaikan di setiap hurufnya. Tentu saja itu semua karena keagungan Al Quran. Jika membaca tanpa mengetahui maknanya saja sudah merupakan kebaikan yang dilipatkangandakan sepuluh kali, bagaimana dengan membaca disertai mengerti maknanya? Maka tak heran dalam hadits lain disebutkan “khoiru ‘ibadati ummati qiro’atul qur’an”. Wallahu a’lam bishshowab

Jumat, 03 Januari 2014

Al-Quran Dalam Elektronik

1. SYEKH ABDUL QADIR AL-AHDAALI

Suara yang didengar dari piringan hitam atau kaset sama dengan suara alQuran yang didengar dari jamadaat, maka tidak di hukumi alQuran

(Kitab al-Anwaar al-Syuruuq fii Ahkaam as-Shunduq Hal. 31)

Syekh Abdul Qadiir al-Ahdaali membolehkan mendengarkan piringan hitam dengan istilah laa ba’sa bihi (tidak ada masalah dengannya) beliau mendengarkan ini dengan syairnya :

وقد سئلت عن سماع طربه **** فقلت بحثا انه لاباءس به

“Aku pernah ditanya tentang mendengarkan alat musik, maka aku jawab sesuai dengan penelitian, yang demikian tidak mengapa”

2. SYEKH MUHAMMAD ALI AL-MALIKI

Merekam alQuran dalam kaset atau piringan hitam dalam menggunakan selanjutnya itu tidak bisa lepas dari unsure menghina atau merendahkan martabat alQuran, karenanya merekam alQuran dalam kaset atau piringan hitam sebagaimana yang maklum hukumnya haram, juga mendengarkan alQuran dari padanya.

(Kitab al-Anwaar al-Syuruuq fii Ahkaam as-Shunduq Hal. 31),

3. MENURUT PENDAPAT YANG TERPILIH DIKALANGAN MADZHAB HANAFIYAH

Kalangan Hanafiyah menyatakan : Mendengar ayat sajdah seperti burung beo, menurut pendapat yang terpilih tidak wajib sujud karena bukan bacaan sebenarnya namun sekedar kicauan yang tidak di mengerti. Pendapat yang lain menyatakan wajib bersujud karena orang yang mendengarkan itu telah mendengarkan firman Allah SWT. Walaupun dari burung yang sedang berkicau” (alFataawy as-Syar’iyyah I389)

Berdasarkan hasil keputusan kajian bahtsul masa'il dan fatwa ulama' kontemporer, Software dan aplikasi Al Qur'an yang ada didalam komputer atau Hp tidak dikategorikan mushaf, karena tulisan yang berupa ayat-ayat al qur'an yang nampak pada layar adalah pancaran sinar yang sifatnya tidak tetap, bisa nampak dan hilang, sementara kriteria sesuatu benda dihukumi mushaf apabila tulisan yang ada disitu tujuannya untuk dirasah (belajar) dan berbentuk tulisan yang sifatnya tetap, selain itu pada umumnya komputer, laptop atau hape berisi bermacam-macam file, sedangkan software atau aplikasi qur'an filenya tidak terlalu besar, jadi software atau aplikasi tersebut hanyalah bagian kecil dari file-file, software-software dan aplikasi yang ada pada komputer, laptop atau Hp

Hanya yang perlu diperhatikan, jangan menggunakan Al-Quran sebagai nada dering karena Al-Quran tidak diturunkan untuk yang demikian, dan ini bukan termasuk memuliakan syiar-syiar Allah.

Berkata Syeikh Shalih bin Fauzan:

لا يجوز استعمال الأذكار ولا سيما القرآن الكريم في الجوالات بدلاً عن المنبِّه الذي يتحرّك عند المكالمة ، فيضع منبّهًا ليس فيه نغمة موسيقى ، وإنما هو منبِّه عادي ، كمنبِّه الساعة مثلاً ، أو الجرس الخفيف ، وأما وضع الأذكار والقرآن والأذان محلّ ذلك ، فهذا مِن التنطّع ، ومِن الاستهانة بالقرآن وبهذه الأذكار

Tidak boleh menggunakan dzikir-dzikir, khususnya Al-Quran Al-Karim di dalam handphone sebagai ganti dari nada dering yang muncul ketika ada yang mau berbicara. Hendaknya memasang nada dering biasa, yang tidak ada musiknya, seperti nada dering jam, atau suara lonceng yang ringan. Adapun menggunakan dzikir , Al-Quran, dan adzan maka ini termasuk berlebih-lebihan dan termasuk penghinaan terhadap Al-Quran dan dzikir-dzikir tersebut.

Demikian pula ketika memasuki kamar kecil/WC hendaknya program mushhaf Al-Qurannya dimatikan baik suara maupun tulisan.
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ketika ditanya tentang membawa kaset murattal ke dalam kamar kecil:

لا بأس أن يدخل الحمام ومعه شريط سجل عليه شيء من القرآن؛ وذلك لأن الحروف لا تظهر على هذا الشريط، ولا يبين إلا الصوت إذا مر الشريط على الجهاز الذي يظهر به الصوت، فلا حرج أن يكون مع الإنسان أشرطة فيها قرآن، أو حديث، أو غيره؛ ويدخل بها الخلاء

Tidak mengapa masuk ke dalam kamar kecil dengan membawa kaset yang terekam sebagian Al-Quran di dalamnya, yang demikian karena huruf-hurufnya tidak nampak di kaset, demikian pula suaranya tidak muncul kecuali kalau memakai alat yang memunculkan suara. Maka tidak mengapa seseorang membawa kaset yang di dalamnya ada Al-Quran, atau hadist, atau selainnya, ke dalam kamar kecil.” asal aplikasiny ajngn dibuka

(Liqa’ Bab Al-Maftuh)

Kesimpulannya, berdasarkan keputusan bahtsul masa'il software dan aplikasi qur'an tidak dihukumi mushaf Tapi jngn dijadikan Nada dering krn yg pastinya akan merusak Kemulyaan Al-Qur'an ketika Ada orang Calling anda akan mngangkat tanp memerahtikan Ayat Al-Qur'an yang sedang berlantun,

sedangkan menurut Syekh Ahmad Syathiri dihukumi mushaf. Jadi apabila kita mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa software dan aplikasi tersebut tidak dihukumi mushaf maka bagi orang yang sedang berhadats diperbolehkan memegang dan membawa laptop atau hape yang sudah diinstal software atau aplikasi qur'an didalamnya tanpa diharuskan wudhu atau mandi besar terlebih dahulu.

Wallohu a'lam.

Referensi :

1. Nihayatuz Zain, Hal : 322.
2. Al Bujairami Alal Khotib, Juz : Hal : 4983.
3. Nihayatul Muhtaj, Juz : 1 Hal : 1244.
4. Al Islam Su'al Wal Jawab, Fatwa no. 106961
5. Syarah Al Yaqutun Nafis, Hal : 82-83
6. Tuhfah Almuhtaaj II/132

Senin, 16 Desember 2013

Wasiat Mbah Arwani Edisi Tartil

"AKU WEKAS KARO SLIRAMU: WIWIT MONGSO IKI SLIRAMU SABEN-SABEN DERES SUPOYO TARTIL. MERGO SENEJAN MUNG SETITIK NANGING TARTIL IKU LUWIH UTAMA LAN MANFA'AT TINIMBANG OLIH AKEH NANGING ORA TARTIL.

MULO WIWIT SAIKI DIBIASAAKEN SING TARTIL SENEJAN MUNG OLIH SA'JUZ RONG JUZ SEDINO. PENGENDIKANE SOHABAT 'ABDULLOH BIN 'ABBAS MENGKENE LA AN AQRO-A SUROTAN UROTTILIHA AKHABBU ILAYYA MIN AN AQRO-AL QUR-AANA KULLAHU.

KEJOBO IKU SING WIS KELAKON TUR NYOTO, YEN KULINONE DERES TARTIL IKU SA'MONGSO-MONGSO KEPENGIN DERES RIKAT TEMTU BISO. NANGING SEBALIKE YEN BIASANE DERES RIKAT BAHAYANE IKU YEN DEWEKE DIKON DERES TARTIL TEMTU ORA BISO JALAN. MULO SLIRAMU YEN ATI-ATI YEN DERES.

CUKUP SEMENE WASIATKU. "




"Aku berpesan kepadamu: mulai sekarang setiap kali kamu 'deres' supaya 'tartil'. Karena meskipun dapat sedikit tapi tartil itu lebih utama dan bermanfaat daripada dapat banyak tapi tidak tartil. Makanya mulai dari sekarang dibiasakan yang tartil walau hanya dapat satu atau dua juz sehari.

Sabda Shahabat 'Abdullah bin 'Abbas begini: Jika aku membaca satu surat dengan tartil adalah lebih aku sukai daripada membaca seluruh Al-Quran.

Selain itu hal yang sudah nyata, jika terbiasa deres tartil sewaktu-waktu ingin deres cepat tentu bisa. Tapi sebaliknya jika terbiasa deres cepat bahayanya jika disuruh deres tartil tentu tidak bisa jalan. makanya kamu hati-hati kalau deres.
Cukup sekian wasiatku."

Perempuan Berlisan Al-Quran

Beberapa waktu yg lalu saya menemukan kisah ini pada kitab kifayatul atqiya',namun untuk ayat dan surat Al-Qur'an cukup rumit dicari dan dicocokan,ndilalah saya menemukan kisah yg sama dan alhamdulillah sudah diterjemahkan plus surat dan ayat dari grup facebook SHI,namun pengambilan kisahnya dari kitab yang berbeda,kitab Alfu Qishah wa Qishah hlm 26-29 cet. Al-Maktabah at-Tauqifiyyah,kisahnya masih sama namun agak sedikit berbeda.
Selamat Menikmati!!! 

Syaikh Abdullah bin al-Mubarak berkata; Suatu hari aku pergi untuk melaksanakan ibadah haji menuju Bait al-Haram dan menziarahi Masjid Nabi shalallahu’alaihi wasallam, ketika aku berada pada sebuah jalan, aku melihat ada sosok yang berwarna hitam dikejauhan. Ketika sudah semakin dekat, aku tau bahwa sosok hitam tersebut adalah seorang wanita yang memakai jubah kain yang terbuat dari wol (shuf).


Aku berkata padanya: Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Wanita tersebut menjawab:

سَلامٌ قَوْلا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ  (يس: 58

Artinya:
(Kepada mereka dikatakan): Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
Aku berkata kepadanya: Semoga Allah merahmatimu, apa yang sedang kamu perbuat di tempat seperti ini?

Wanita tersebut menjawab:

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلا هَادِيَ لَهُ (الأعراف: 186

Artinya:
Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk.
Dari jawabannya aku mengerti bahwasanya dia adalah seorang wanita yang sedang tersesat di jalan, kemudian aku bertanya kepadanya: kemana arah tujuanmu?

Wanita tersebut menjawab:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى (الإسراء: 1

Artinya:
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al- Haram ke al-Masjid al-Aqsha.

Dari jawabannya aku mengerti bahwasanya dia telah selesai dengan urusannya dan ingin kembali menuju Bait al-Maqdis. Kemudian aku bertanya kepadanya: Sudah berapa lama kamu berada di tempat ini?

Wanita tersebut menjawab:

ثَلاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا (مريم: 10

Artinya:
selama tiga malam, padahal kamu sehat.

Aku berkata: Aku tidak melihat makanan di sisimu, apakah kamu sudah makan?

Wanita tersebut menjawab:

وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (الشعراء: 79

Artinya:
Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku.

Aku berkata kepadanya: Ini kan bukan bulan Ramadlan?

Wanita tersebut menjawab:

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (البقرة: 158

Artinya:
Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

Aku berkata kepadanya: Bukankah ketika diperjalanan kita diperbolehkan untuk tidak berpuasa?
Wanita tersebut menjawab:

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة: 184

Artinya:
Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Aku bertanya kepadanya: Dimana air wudlumu?

Wanita tersebut menjawab:

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا (النساء: 43

Artinya:
kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik.

Aku berkata kepadanya: Kenapa kamu tidak berbicara dengan cara berbicara yang seperti aku lakukan?

Wanita tersebut menjawab:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (ق: 18

Artinya:
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

Kemudian aku bertanya kepadanya: Dari suku bangsa mana kamu?

Wanita tersebut menjawab:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (الإسراء:36

Artinya:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Aku berkata kepadanya: Jika pembicaraanku salah tolong maafkan aku.

Wanita tersebut berkata:

لا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (يوسف: 92

Artinya:
Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang.

Kemudian aku berkata kepdanya: Maukah kamu aku naikkan ke untaku untuk aku antarkan ke rombonganmu?

Wanita tersebut menjawab:

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ (البقرة: 197

Artinya:
Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.
Kemudian aku memandang bagian bawah dari untaku (sehingga terlihat pula sebagian anggota tubuh wanita tersebut).

Wanita tersebut berkata:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ (النور: 30

Artinya:
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya.

Maka seketika itu aku langsung menundukkan pandanganku kepadanya, lalu aku berkata kepadanya: Naiklah kamu ke punggung untaku….ketika wanita tersebut hendak bergegas menaiki unta, tiba-tiba untaku berlari sehingga tersingkaplah pakaiannya, lalu wanita tersebut berkata:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ (الشورى: 30

Artinya:
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.

Lalu aku berkata kepadanya: Sabarlah sebentar sehingga aku mencancangnya terlebih dahulu.

Wanita tersebut menjawab:

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ (الأنبياء: 79

Artinya:
Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman.

Kemudian aku mencancang untaku, setelah selesai kemudian aku berkata kepadanya: Naiklah kamu sekarang.

Ketika wanita tersebut beranjak menaiki unta dia berkata:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ (الزخرف: 13-14

Artinya:
Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.

Kemudian aku mengambil tali kendali unta tersebut lalu berteriak dan aku pacu supaya berjalan cepat, ketika aku melakukan hal itu, wanita tersebut berkata:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ (لقمان: 19

Artinya:
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.

Setelah diperingatkan demikian, aku lalu memacu unta dengan pelan-pelan sambil aku mendendangkan sebuah syair, melihat apa yang aku lakukan, wanita tersebut berkata:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ (المزمل: 20

Artinya:
Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran.

Aku berkata kepadanya: Engkau sungguh telah dianugrahi kebaikan yang sangat banyak.

Wanita tersebut menjawab:

وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (البقرة: 269

Artinya:
Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).
Setelah berjalan beberapa saat, aku bertanya kepadanya: Apakah kamu memiliki suami?

Wanita tersebut menjawab:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ (المائدة: 101

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu.

Setelah mendapatkan jawaban yang demikian, aku tidak lagi mengajaknya berbicara sampai kami tiba pada rombongan wanita tersebut.kemudian setelah sampai kau menanyainya:

Di dalam rombongan tersebut, siapa yang menjadi keluargamu?

Wanita tersebut berkata:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا (الكهفي: 46

Artinya:
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.

Mendengar jawabannya tersebut, aku mengerti bahwasanya dalam rombongan terdapat anak-anak wanita tersebut. Kemudian aku bertanya kepadanya:

Bagaimana keadaan mereka dalam melaksanakan perjalanan untuk menunaikan haji tersebut?

Wanita tersebut menjawab:

وَعَلامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ (النحل: 16 

Artinya:
dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.

Dari jawabannya tersebut aku tau bahwa dalam rombongan tersebut terdapat orang-orang yang memberikan petunjuk dalam perjalanan mereka. Kemudian aku dan wanita tersebut bergegas menuju perkemahan yang ada dalam rombongan tersebut. Setelah sampai pada sebuah tenda, aku bertanya kepada wanita tersebut:

Apakah yang engkau tuju adalah tenda ini? Dan siapakah keluarga yang engkau miliki dalam tenda ini?

Wanita tersebut lalu berkata:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلا (النساء:125 

Artinya:
Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا (النساء:164 

Artinya:
Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ (مريم: 12

Artinya:
Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.

Dari jawabannya tersebut aku mengerti bahwasanya dia sedang memanggil anak-anaknya yang bernama Ibrahim, Musa, dan Yahya. Tidak begitu lama kemudia muncullah dua orang pemuda yang ganteng, mereka berdua tampak senang ketika melihat kehadiran ibunya tersebut. Ketika kami sudah dipersilahkan duduk, wanita tersebut berkata kepada anak-anaknya:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ (الكهفي: 19

Artinya:
Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu.

Setelah mendengar ucapan ibunya, salah seorang dari mereka bergegas pergi untuk membeli makanan lalu dihidangkanlah makanan tersebut pada kami. Kemudian wanita tersebut berkata:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ (الحاقة: 24

Artinya:
Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.

Setelah selesai makan, aku tidak dapat menahan rasa penasaranku terhadap wanita tersebut. Untuk itu aku menanyai salah seorang dari mereka:

Saya sangat mengharapkan agar kalian sudi menceritakan tentang keadaan ibu kalian kepadaku.
Lalu salah seorang dari mereka berkata:

Sesungguhnya ibu kami semenjak empat puluh tahun yang lalu tidak pernah berkata kecuali dengan memakai ayat-ayat al-Qur’an. Hal itu beliau lakukan karena beliau khawatir hafalan al-Qur’annya hilang (jika tidak sering-sering dibaca). Maha Suci Dzat Yang Kuasa atas segala yang Dia Kehendaki.

Mendengar jawaban mereka, aku berkata:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (المائدة: 54

Artinya:Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.